Bagaimana Kita (Seharusnya) Melihat Barat?

Kira-kira, kalau kalian disodorin sama pertanyaan ini, apa jawaban kalian?  

Kalau barat divisualisasikan hari ini, ada banyak gambaran-gambaran yang bersliweran di alam pikiran kita. Negara-negara yang indah, teknologi yang maju, ekonominya kuat, kotanya tertata rapi, pelayanan publik yang nyaman, strata pendidikan yang tinggi dan berkelas, brand shopping dengan harga yang mahal dan merk mendunia. Satu lagi yang tidak boleh ketinggalan, yaitu pojok-pojok kota dan lokasi rekreasi yang instagramable. Ya kan? Hehe

Atau mungkin di antara kita punya gambaran lain yang cenderung negatif? Misal negara dengan mayotiras penduduk non islam. Masyarakat yang masih bergelut dengan isu rasis yang begitu kental. Kejahatan dan premanisme yang sangat menggurita. Juga negara yang sangat menjunjung kebebasan dalam banyak hal (kadang terlalu berlebihan dan kebablasan).

Isu-isu hangat dunia juga tak jarang berpusat di sana kayak feminisme, LGBT dan lain-lain. Kemarin yang sempet booming kasus pembunuhan di salah satu masjid di New Zealand. Kriminal (I prefer to say terrorist attack than just a gunman) yang sejenis ini skalanya terbilang cukup parah karena perdagangan dan kepemilikan senjata api bisa dibilang tidak sulit di sana. Pokoknya gambaran tentang barat cukup menyeramkan kalau dilihat dari sisi negatifnya.

Tapi dari berbagai macam visualisasi yang ada, kita perlu setuju bahwa wajah barat hari ini memang begitu memesona dengan segala apa yang mereka capai.

To be honest. I’ve been in the situation like: pernah merasa malu menjadi seorang muslim yang ‘berkiblat’ ke arab (Apalagi pasca 911). Serius. Padang pasir, daerah konflik yang ramai dengan berita perang siang dan malam. Terbelakang hampir di segala bidang. Wah pokoknya malu dan kesel banget. Paling enggak, tetep jadi muslim tapi berkiblatnya ke barat biar kerasa lebih modern dan maju. Gak kolot. Lebih keren ajaa. Yaa pokoknya, apa-apa patokannya barat laah.

Temen-temen pernah ngerasa gitu gak sih? Apa cuman gue doang yaa? Haha

Anyway, ini adalah salah satu sebab kenapa saya pengen banget sekolah di negeri setelah 6 tahun SD Muhammadiyah 2. saya juga pernah membenci pesantren karena gambarannya yang kumuh, penyakitan (sakit kulit), tradisional dan terbelakang.

Tapi seiring berjalannya waktu (yang mana pada akhirnya tetap dimasukin ke pesantren juga haha), saya mulai menyadari satu hal. Bahwa wajah meriah barat hari ini, dulunya justru gelap dan gersang. Teman-teman bisa baca masa Dark Age yang menimpa eropa sampai abad-abad pertengahan. Eh tapi jangan stop di bacaan ini aja ya. Baca juga di zaman yang sama tentang wajah timur khususnya bangsa arab.

Oke, kita balik lagi ke pertanyaan inti kita. Bagaimana kita (seharusnya) memandang barat?

Barat, bagaimana pun persepsi temen-temen sekarang, kita tetap tidak bisa melepaskan mereka dari sejarah kita sebagai umat islam. Contoh, dari segi ilmu pengetahuan. Kalian kenal dengan Ibnu Sina atau Avicenna kelahiran Persia (Iran hari ini) sang ahli kedokteran yang ilmunya masih menjadi rujukan dunia? atau Ibnu Bajjah (Avempace)? Filsuf muslim pertama di barat yang ‘menghibahkan’ dirinya untuk menyelam dalam lautan filsafat Yunani lalu menerjemahkannya pada bahasa Arab lalu dipelajari oleh bangsa Barat. Atau Ibnu Rusydi (Averroes)? Ibnu Kholdun? Al Khawarizmi? Atau Ibnu Haitsam (penemu sistem Kamera pertama kali)? Abbas bin Firnas (penemu konsep pesawat terbang pertama kali). Hingga hari ini, betapa banyak ulama dan ilmuan kita sudah berabad-abad menjadi rujukan barat hingga mereka sampai pada kejayaannya sekarang.

Nah, dari segelintir kecil fakta ini saja, persepsi dan cara pandang kita tentang barat bakal jadi sedikit lebih luas. Simple nya adalah, kita umat islam, punya saham dalam pencapaian barat hari ini. So, kita perlu bangga dengan para ulama dan ilmuan muslim kita di zaman-zaman lampau. Terlebih lagi, islamlah yang mencetak mereka, para manusia-manusia unggul yang kiprahnya tidak hanya soal akhirat, tapi juga dunia! Kalau boleh beropini, tidak cukup hanya dengan merasa bangga, tapi juga harus aktif untuk turut menguasainya!

Sekelas Roger Bacon bahkan sampai harus belajar bahasa arab ketika dia kuliah di Oxford karena pada saat itu, banyak para guru yang berasal dari Andalausia yang keimuannya begitu memesona dan menarik bagi para intelektual eropa. Bayangkan, Roger Bacon dan yang lainnya saja sampai mau belajar bahasa arab untuk membuka khazanah keimuan itu.

Lalu Bagaimana Kita Menjawab Pertanyaan ini?

Kita tidak bisa mutlak memilih wajah benci pada Barat karena berbagai latar belakangnya yang berbeda dengan kita. Tidak bisa juga bersikap berat sebelah tersebab majority mereka tidak sekeyakinan dengan kita. Pada intinya, membenci bukanlah jawaban bijak.

Mengenai sikap kita terhadap barat, kita perlu membuka berbagai kaca mata kita dan mulai memandang dengan lebih jernih dan adil. Menjadi anti 100% kepada barat tentu adalah sebuah kesalahan mengingat ada banyak hasil karya mereka yang sudah ada dalam genggaman dan lingkup kita hari ini. Namun memilih untuk menyukai dan mengikutinya 100% dengan berbagai issues di dalamnya jelas bukan sikap yang tepat juga.

Pada koridor ini kita perlu mengambil banyak pelajaran positif dari barat yang mana memiliki manfaat untuk islam dan kaum muslimin. Di saat yang sama tentunya juga  menyaring sedetail mungkin pengaruh negatif yang merugikan.

Maka kaum muslimin yang berfokus pada bidang apa pun (baik teknologi, bahasa, diplomasi, sosial, politik, perfilman dan lain sebagainya) perlu membarenginya dengan niat mulia dalam rangka menjaga muru’ah islam dan kaum muslimin dengan tidak meninggalkan nilai-nilai luhur islam itu sendiri.

Bisa kita bayangkan, akan bagaimana islam dan kaum muslimin jika dua kutub positif antara timur dan barat memberi dampak yang juga positif bagi wajah dan kesan islam di panggung dunia? Amazing!

Wallahu A’lam

Iklan

#2 Mengenali dan Melengkapi Diri

Bismillah. Selamat datang di tulisan kedua di Proyek Peradaban. Sebelumnya, mohon maaf banget karena gaya tulisan di kategori ini beda sama kategori opini dan yang lainnya. Entah kenapa pengen aja gitu nulis dengan gaya yang lebih bebas dan gak terlalu terpaku sama kaedah menulis baku dan KBBI, alias pengen gaya yang suka-suka aja. So, harap maklum dan jangan kaget yaa. Ini bukan berarti gue punya kepribadian ganda. Haha :D. Oiya satu lagi, semua tulisan di kategori ini bersifat #NTMS. Bukan ditujukan untuk menggurui yang baca, jadi jangan salah kaprah ye…

Baca selebihnya »

#1 Kesadaran Diri (Muqoddimah)

Bismillah. Ini adalah seri pertama dalam kategori tulisan baru di sini. Secara garis besar ini adalah gambaran tentang proyek masa depan dan sumbangsih peradaban ala gue. Mulai dari kesadaran diri, mengenal dan melengkapi kapasitas diri, memilih pasangan hidup juga tujuan dalam berumah tangga dan yang terakhir adalah gambaran sumbangsih pada sejarah dan peradaban Islam. (Weew beraaat~)

Oke. Kita mulai dari #1 Kesadaran Diri (Muqoddimah). Kalau boleh jujur, memulai serial ini sebenarnya cukup terlambat ya. Kenape gak dari dulu gitu, biar lebih mateng lagi persiapannya. Haha. tapi, terlambat lebih baik daripada enggak sama sekali, kan?

Baca selebihnya »

Agar Kemerdekaan Tak Sekadar Euforia

Menikmati dan merayakan pencapaian setelah serangkaian jerih payah yang panjang tidaklah salah. Secara alami, manusia melakukannya sebagai bentuk syukur dan bahagia. Bagi mereka yang memiliki ikatan dan kesan tertentu, merayakannya adalah upaya untuk mengenang bahkan menghadirkan kembali semangat yang dahulu pernah dibawanya. Kemerdekaan bangsa ini adalah salah satunya, dengan segala keramaian yang dihadirkan, semua berbahagia, bereuforia.

Namun, kita patut waspada. Bahwa euforia sering kali berujung pada keterlenaan. Lebih jauh lagi, bila sampai melupakan esensi yang sebenarnya dari perayaan ini. Apakah setiap tahunnya kita bersibuk ria mengulang serangkaian seremonial namun tidak membawa semangat yang seharusnya ada? Yaitu semangat untuk merdeka dalam makna yang lebih menyeluruh dan purna?

Baca selebihnya »